Sabtu, 24 April 2010

It Is Not about Who’s the First

“dia yang mulai duluan! Dia yang merayuku pertama kali!” diam sejenak. “dia yang terus berupaya membujukku. Dan dia yang pertama kali melakukannya!” Lelaki itu bersikeras membela diri.

“tapi ini bukan soal siapa yang pertama mengajak siapa, siapa yang pertama kali merayu, maupun siapa yang pertama kali membujuk. Ini soal apa yang telah terjadi !” Wanita itu jelas berusaha keras nadanya melembut dan dapat diterima lelaki itu.

“aku itu tidak mau ! Dan tidak ingin ! Tapi dia yang terus berupaya mengajakku. Dia yang pertama kali mengajak. Aku cuman korban. Bayangkan jika lelaki terus dibegitukan, dirayu, dibujuk, siapa yang tidak kemudian menginginkannya?” ia membela diri.

Wanita 28 tahunan berjilbab pink itu menghela nafas. Menarik seluruh kesabaran di dunia masuk dalam dadanya.

“tapi kamu sudah melakukannnya. Ini apa yang sudah terjadi diantara kalian berdua. Ini apa yang sudah terlanjur. Cukup berkata dia dia dia…dan siapa yang pertama begini ….pertama begitu….. ini apa yang telah kalian lakukan… apa yang telah terjadi kini sebagai akibat apa yang sebelumnya terjadi…..” nada wanita itu sedikit meninggi. Lelaki itu berdiam dalam kejengkelan.

Wanita berusia 21 tahunan hanya mematung terisak. Sesekali mengelap airmatanya dengan berlembar tissue.

“huh..kenapa terus berdebat sih. seandainya aku mau, aku tidak memilih kamu, atau kamu tahu. Aku sudah begini kamu seenaknya mau berlari dan mengelak dari apa yang telah kamu lakukan ? toh meski wanita ini yang yang pertama kali membujuk, pertama kali mengajak, pertama kali merayu…tak akan terjadi kok perbuatan yang menyebabkan aku ada jika kamu tak membuka diri. Pengecut ! Pecundang! Bangsat kamu ! Sudah merasakan enaknya. Seudah merasakan senangnya, sudah merasakan kedashyatannya, kini aku berwujud, kamu berkilah begini begitu !” lelaki itu diam tak mendengar amarahku yang tak tertahan lagi.

“bisa saja sebelum aku dia sama yang lain. Bisa saja itu aku, tapi aku tidak bersalah. Aku tak harus bertanggung jawab. Dia yang menyebabkan semua ini kok. Biar dia menuai apa yang sudah ia lakukan. Biar dia bertanggung jawab !” kilah lelaki itu melimpahakan segala salah dan urusan wanita yang bersamaku. Ia merasa tak berdosa, bahkan merasa dia tak urun salah.

“kamu memang bangsat ! Kamu memang pecundang ! Benar wanita itu. Ini bukan soal siapa yang pertama. Meski dia yang pertama mengajak dan merayumu, tapi kamu melakukan langkah yang lebih besar dari ‘langkah pertama’ itu sendiri? Tak merasa betapa pecundangnya dirimu ? kau merasa bersih dari salah? Hanya korban? Tahu tidak, kamu itu manusia pengecut yang hanya memikirkan dirimu sendiri, kesenanganmu. Kamu mungkin berusaha menyelesaikan. Tapi hanya sefihak. Kau lari ! Ah, dasar pecundang. Kamu memang sungguh egois ! harusnya kalau kamu tak ingin terjadi, jangan membuka kesemptan sedari awal, jangan berbuat sesuatu yang lebih dari perbuatan wanita yang kau sebut-sebut ‘pertama kali’ ini ! “ dampratku. Lelaki itu hanya mematung. Bersikeras dia tak bersalah dan sudah sepatutunya terbebas dari kesalahan dan tanggung jawab.

Ughh… rasa sesak yang menggumpal semakin menyiksaku kala kudengar mereka bertengkar saling menuding siapa yang paling salah, mencari siapa yang harus bertanggung jawab penuh, siapa yang sepatutnya terlepas diri dariku. Bentakan, air mata yang tumpah ruah, saling tuding bahkan hampir bertikai.

“bagaimana bila aku hilangkan saja ini? bagaimana jika aku pergi saja dari dunia ini?” wanita yang bersamaku tiba-tiba histeris putus asa. Aku terperangah.

“apa ?? salah apa diriku? Jika mau aku tiada dulu tak mengapa. Lalu aku berada dalam pelukan rahim seorang wanita dan elusan lelaki teladan yang hebat yang membisikkan ayat-ayah dan dzikir panjang yang hangat. Jika mau, aku memilih meringkuk dalam rahim wanita yang bahkan tak punya sekalipun tetapi beriman !”

“ Apa yang akan akan kalian lakukan sekarang ? Kenapa saling berdebat dan main bola melampar aku? Apa salahku? Bukankah aku telah terbentuk dari bagian yang paling berbau dari kalian ! Apalagi kalian membentukku dengan jalan begitu. Salah apa aku? Masih tak cukup hinakah aku terus kalian elak keberadaanku, bahkan berusaha menolak menerimaku !”

“ Apa ? Apa yang akan kamu…kalian mau lakukan ? Menghancurkanku berkeping-keping dengan sebilah pisau, gunting dan alat lain yang tajam ? Menyayat aku hingga berkeping-keping ? Aku sudah cukup tak berdaya dengan tangan-tangan mungilku yang belum tumbuh sempurna. Aku sudah cukup tak berdaya dengan kaki-kaki dan seluruh bentuk tubuh yang masih tak sempurna ini. Bahkan aku makan saja aku masih bergantung pada lilitan tali pusat yang tersambung pada bagian tubuhmu hei wanita tak tahu diri ! Saat kau meminta seseorang menghunuskan sebilah pisau dan pijatan kasar yang menyakitkan, aku ingin berlari menghindar. Aku tak mau mati ….aku tak mau mati…aku tak mau mati….aku telah terbentuk, dan aku ingin merasakan hidup. Jangan kalian bunuh aku. Jangan! Aku mohon. Meski kau telantarkan, kau buang aku, kau berikan aku pada yayasan yatim piatu, atau pada orangtua lain yang mau merawatku kelak tak mengapa. Aku telah ada karena apa yang kalian lakukan. Kini aku punya kemerdekaan keinginan untuk hidup ! aku mau tetap hidup menikmati udara dunia, menikmati indahnya sholat, puasa, zakat dan haji, serta menebarkan banyak ilmu !” mataku yang baru berupa titik hitam menitikkan air mata yang langsung bercampur dengan air ketuban.



Istana Hadeeja

Malang, 18 April 2010

17.30 wib

Rabu, 21 April 2010

My Whole Family

My Beloved Big Family ...!!! Lebaran bisa kumpul bareng adalah saat-saat yang Luar Biasa !!!

Kamis, 01 April 2010

CATERCOTERFLY: Nada-Nada Ghirah

Judul : CATERCOTERFLY: Nada-Nada Ghirah
penulis : Nia Azkina Zativ
Tebal : 140 hlm
Ukuran : 13 x 21 cm

Memuat segala kisah cobaan hidup yang penuh haru biru, kisah-kisah yang penuh keajaiban, penuh sentuhan.
Kisah dalam buku ini seluruhnya diambil dari kisah nyata. Para remaja yang sedang mengalami jatuh cinta, sakit hati, kehidupannya yang berputar dari kaya menjadi miskin, yang di tinggal orangtuanya karena meninggal, orangtuanya dipenjara karena menjual narkoba, atau karena mereka tak bertanggung jawab, seorang gadis yang memperjuangkan memakai jilbab, gadis tunarungu yang ingin belajar tentang agama, seorang gadis yang berselisih dengan ibu dan mendapati temannya hendak bunuh diri dan sebagainya.

HappY B'day my Hana


“melipat sendiri..melipaaaat sendiriiiii !” hana bernyanyi sembari melipat mukenanya…. “... katakan pada ayah kalau aku sekarang rajin sholat ya….!” Imbuhnya.

Alhamdulillah…nilai agama dan hafalannya di sekolah termasuk kurang… bukan berarti dia malas. Tapi logika dan akalnya lebih cepat dan tajam. …alhamdulillah mau sholat…memakai mukena…susah2 gampang…membujuk memakai mukena memakai jilbab ibunya.

“yuk jadi ubur2. ibu ibur2 putih, hana ubur2 pink!..” bujukku…sholat seperti bermain… alhamdulillah…meski bacaannya belum hafal semua…tapi urutan… dan bisa mengingatkan kesalahan ibunya tankala ibu menjadi imam adalah luar biasa buat ibu…

“wah ibu tadi ada yang salah..tapi aku betulkan tadi yo…ibu lupa…he he he..!” tukasnya sediki tmeledek ibunya yang saat mengimaminya sempat terlupa di pertengahan ayat.

Meski kadang terkesan sering bandel dan mengulangi kesalahan dan melanggar janjinya, bisa mengkritisi keadaan dan berempati.

“eh buu…ssst…jangan bilang2 tapi sama ayah. Nanti ayah sakit hati. Ayah itu bssssttt bsssst. Ya… jangan bilang loh. Kasih aja buku ini. biar ayah baca. Biar tidak begitu lagi..!” cetusnya saat melihat prilaku ayahnya yang kurang baik…

“ibu itu gimana sih? gak pinter denger a? ibu itu gimana sih, kok lupa2 lagi…blab la bla…!”

Subhanallah. Dua hari ini bener2 seperti terbang mengelana 7 tahun bersamanya. Terlalu banyak hal. Terlalu panjang bila harus di utarakan dalam sebuah kisah.


::::: Duhai gadis kecilku…Kau seperti kupu-kupu kecil yang siap terbang. Saat kau bilang kau meminta ibu melepas tanganmu tatkala menyebrang jalan besar, tatkala kau meminta ibu mempercayai bahwa dirimu sudah bisa menyebrang jalan dengan sepeda … sendirian, ibu sebenarnya berat sayang. Tapi ibu sadar, saat kau bilang kau bisa, saatnya ibu memang harus bisa melepasmu dan mempercayaimu.



Kau sudah besar kini, bukan seperti anak ibu lagi. Kau teman dan sahabat ibu sayang. Dikala ibu bersedih kau seka air mata yang mengalir di pipi ibu. Kau cium ibu sembari berkata “ibu jangan nangis lagi ya”…..atau kau menggoda ibu..”ibu awas ada cacing…hahaha…bercanda…”…”ibu awas bocor atapnya…hahaha..bercanda!” sungguh kau bukan anak kecil lagi….kau sudah bisa mencuci piring kotor yang bertumpuk atas inisiatifmu sendiri…kau mulai belajar mencuci baju manual padahal ada mesin cuci…. Saat ada cacing yang ibu fobia memasuki rumah, kau dengan baik hati menyingkirkannya dengan kayu atau sapu…atau kau bilang,,,”ibu jangan lihat”…



Ya…meski sifat kanak-kanakmu selau muncul…”ibu …takut geledek!” kau memekik sembari menutup telinga. Bujuk rayu dan kata2 ibu tak kau dengarkan hingga ibu agak geram…”sudah lepaskan sayang.”….”hiks…takuuut…!”…” Percaya sama ibu..dengarkan denting hujannya…” tegas ibu. Seketika kau melepas kedua tanganmu. Ibu kasihan sayang…tapi ibu harus begitu demi dirimu…alhamdulillah…sejenak kemudian kau justru berimajinasi…”oooowww…jadi geledek itu drum…dan hujan itu ting ting ting…! Jadi begini…tik tik tiik…tik tik tik…. DUNGGGGGG !” … ibu jadi gemas…geram ibu terbang bersama candamu….



Met ultah sayang…



Tumbuhlah…dan berkembanglah…seperti mawar di surga…. Tebarkan keharuman budi pekerti dan ilmumu yang bermanfaat…indahkan dirimu dengan tingkah laku akhlaqul karimah…lindungi dirimu dengan duri kekebalan iman dan ketaqwaan…!! Be a good muslimah ya…!



“ A Muslim woman is a rose…


So beautiful … so fragrant….


Her thorn is her sharp mind, firm attitude, and protection.


Her sepal and her fragrant is her performance followed by her good behavior - Her knowledge followed by the application on her daily activities.”



Malang, 1 April 2010 06:24