Jumat, 29 Juli 2011

IMPIAN LABIB

Behind Impian Labib

Yang telah dimulai, harus diselesaikan. Itulah tangggung jawab. Apalagi jika sudah ada komitmen dibuat dengan statement ‘Professional’ tentunya. Hanya saja jika sudah ada kata ‘keluarga’. Maka seidealisme itukah langkah selanjutnya?



Impian Labib, mulanya terinspirasi dari perjalanan hidup beberapa rekan yang mendapat kendala ‘ilmu klenik’ saat merajut cinta, saat mereka berniat membawa cinta mereka menuju pernikahan. Beberapa diantaranya berhasil lulus tantangan meski harus bermandi keringat dan air mata saat berjuang, ada pula yang lolos. Pernikahan batal hanya karena arah rumah dan tanggal lahir dinyatakan ‘tidak pas’. Air mata itu, jerit hati itu, juga harapan cinta berdasar karena Allah swt serta pernikahan sesuai syariat islam ditegakkan membuat aku dan emka tak tahan untuk tak berbuat sesuatu.

Kisah ini terinspirasi dari kehidupan nyata. Yang kejadian demi kejadian dalam novel ini kami torehkankan dari kepingan kisah yang ada disekitar kami. Ini hampir mirip seperti puzel curhat dan jerit kecil yang selama ini hanya dipendam dalam hati dan tak sempat, bahkan tak bisa diutarakan. Dari yang lolos, hingga yang lulus, temasuk yang tak bersentuhan dengan ‘ilmu klenik’ sama sekali dan berhasil membina biduk rumah tangga yang Sakinah, Mawaddah wa Rahmah.

Novel ini terselesaikan dalam waktu 6 bulan saja. singkat? Alhamdulillah. [Novel pertamaku hanya memakan waktu sebulan . hehehe. Yang ketiga malah sudah 8 bulan ini belum finish .. ]

Impian Labib, ditulis oleh Nia Azkina Zativ dan Emka Rahman. Ahhhayy siapa pula kami? Bukan saudara, juga bukan suami istri. Hanya dua insan yang sejak bertahun lalu sudah menganggap satu sama lain seperti adik dan kakak. Karena kami memang besar bersama, pernah berjuang bersama, dan mengenal satu sama lain luar-dalam alias ‘as a whole person’, yang sama-sama memiliki impian bisa menjadi penulis, serta ingin berdakwah melalui tulisan.

Namun meski kami teman yang telah bersama sejak kecil, menyatukan dua pikiran ternyata bukan perkara mudah. Berkolaborasi dalam penulisan novel ibarat menyatukan dua cinta saja. (puh, tinggi banget kata-katanya). Hihihi. Adakalanya terjadi amarah, kecewa, perdebatan yang berujung airmata, sebal, saling somasi dan saling minta maaf sekaligus duka dan senang (Apalagi tatkala bab demi bab itu rampung. ‘Seneeeeeng banget’ apalagi jika komennya“bagus bangeeeet” kayaknya demikian.) ^^

Adakalanya kesibukan dan waktu yang mepet membuat banyak ide terhambat tertuang. Namun saat kesempatan itu hadir, pikiran tidak fokus. Ujung-ujungnya, buntu. Penciptaan kalimat dan conversation pun jadi amburadul. Tapi kami tak boleh patah semangat. Waktu mepet, maka intensitas kualitas harus benar-benar diperjuangkan sembari dinikmati. Telalu sibuk, maka fasilitas apapun dimanfaatin. Alhamdulillah, hal indahnya … hasilnya jadi lebih terasa natural dan tidak dipaksakan. Seperti percakapan sms Hazima dan Labib, surat cinta mereka,.. termasuk curhat mereka via Chatting dan Email.

Ada kalanya ‘sentilan kecil’ mencubit kami. (resiko?). Inilah salah satu sebab yang menjadikan penerbitan menjadi sedikit tertunda. Aku sempat ngambek gara-gara ‘cubitan’ kecil yang kudengar, yang bagiku lebih dari fitnah luar biasa. aku nggak mau novel diterbitkan karena takut dapat fitnah dan tudingan macam-macam lagi. (Hihihi. Ndak professional banget kesannya. Habisnya aku tak boleh egois dan sok benar bukan?). Tapi dari situlah aku belajar untuk tak mudah menyalahkan orang yang menudingku sembarangan, yang hanya berdasar kisah sepenggal atau masa yang telah lewat. Aku belajar untuk lebih berhati2 baik dalam tindak maupun kata.

Alhamdulillah, Syukurlah, semua telah terlalui. Ku buka mata hati dan lembaran baru. Terima kasih banget buat bang Emka yang turut memperjuangkan ini semua. makasih atas kerjasama, bantuan dan pengorbanan luar biasamu. From the bottom of my heart, I’m so sorry for everything. Finally, this is our work; IMPIAN LABIB. I love this work so much.

For all, mohon maaf jika dalam penggarapan novel ini, kami secara tidak sengaja telah mengusik dan melukai hati. Kami bukan manusia sempurna, dan tak akan sempurna. Namun dalam ketidak sempurnaan diri kami, mudah2an kami bisa terus bermuhasabah, berjuang dan menjadi hamba terbaik-Nya.

We are so thank to Allah for Your guidance and protect us. Haky Adnan, Rita Yuliasari, our beautiful daughters; Hana Syarieva ‘n Mahya Labibah, Syarif Reza, mbak Tutik, Laili, Mas Adam B, Raja, UBDM, Avieza L, Fauzan A, and all person yang akan ngebaca dan menularkan ke calon pembaca yang lainnya. Mudah2an karya kami bermanfaat. Aammmiiien.


Judul: Impian Labib
Genre: Novel Islami Inspiratif
350 hlm + xi
Pre Order: 45. 000,- + Ongkir (pesan sebelum terbit)/ sebelum 27 agustus 2011
Harga Rp. 55.000,- + Ongkir


"Mas, seorang pendulang emas saja harus mengayak ribuan kilo pasir hitam demi segenggam emas yang indah. Mas masih punya Allah. Berjuanglah dengan penuh kesabaran. Yakinlah semua akan berakhir. Tegakkan kepala mas, pandanglah langit dan katakan: ….
" ya Allah aku akan tunjukkan kepada-Mu seberapa besar kekuatan cahaya-Mu dari tubuh ciptaan-Mu yang sempurna ini ! lihatlah ya Allah ! aku tidak akan mundur sedikitpun untuk menuntaskan ujian-ujian yang Engkau berikan ini !”
Lihatlah telapak tangan mas.. lihat terus… mas masih dapat berbuat banyak hal dengannya. Dan mas masih mempunyai Allah untuk dipinta petunjuk!..."

Novel sederhana. Tentang persahabatan dan cinta. Persahabatan Labib dan Hazima kecil yang erat dan tak terpatahkan hingga bertahun. Yang berubah menjadi cinta yang tulus, yang kemudian harus berhadapan dengan ilmu klenik yang digenggam erat keluarga Labib.

Novel menyentuh dan menggelikan, tentang pergulatan hati dan jerit Labib yang dihadapkan antara mematuhi orangtua yang tunduk kepada ilmu klenik atau menentang mereka atas nama syari'ah. Tentang pergulatan hati dan berjuangannya menjalani keputusan besarnya. Juga tentang air mata dan senyum ketegaran Hazima yang memiliki impian besar bersanding dengan lelaki yang terbaik menurut-Nya.

Regards,

Nia Azkina Zativ
“Keep Positive Thinking ‘n Feeling! Stay Focus ‘n Trying Hard”

1 komentar: